Jagariau – DURI – Meski Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) masih jauh, namun pembicaraan terkait figur calon pemimpin masa depan Riau mulai menyeruak.
Belum ada yang secara resmi menyatakan diri maju. Kendati demikian, sejumlah nama mulai menjadi perbincangan karena dinilai memiliki modal politik, pengalaman Pemerintahan maupun basis massa yang cukup kuat.
Dari rangkuman Jagariau.com, setidaknya ada enam figur yang menarik perhatian, salah satunya Pemimpin dua periode Negeri berjuluk Sri Junjungan Bengkalis, Kasmarni. Pengalamannya yang mumpuni sebagai birokrasi sejati.
Selain itu, Bengkalis merupakan salah satu daerah strategis di Riau dengan basis politik yang cukup dikenal. Hal ini menjadi modal politik jika Kasmarni benar benar masuk dalam bursa Pilgubri.
Sosok keibuannya dalam mengayomi masyarakat, juga terbukti menjadikan Bengkalis menjadi Kabupaten yang bermarwah, Maju, dan Sejahtera serta Unggul di Indonesia.
Lebih dari pada itu, Kasmarni dikenal luas sebagai pejabat publik yang memiliki kemampuan finansal yang kuat.
Selain Kasmarni, ada sosok Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, Walikota Pekanbaru Agung Nugroho, Ketua DPD Partai Gerindra Riau sekaligus anggota DPR RI, Muhammad Rahul, Ketua DPD PDIP Riau sekaligus Bupati Pelalawan, Zukri Misran dan Walikota Dumai, Paisal.
SF Hariyanto menjadi nama yang menarik karena memiliki latar belakang birokrat senior. Kini, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Plt Gubernur Riau.
Untuk dukungan partai, diketahui SF saat ini dekat dengan partai Golkar. Bukan tidak mungkin di Pilgub mendatang, ia bisa mendapatkan dukungan Golkar.
Berbeda dengan SF, Agung Nugroho memiliki dua modal sekaligus. Ia merupakan kepala daerah di ibu kota Provinsi sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Riau.
Posisi sebagai Walikota Pekanbaru membuat Agung memiliki panggung politik yang besar. Berbagai program pembangunan dan kebijakan yang dijalankan di Pekanbaru menjadi bagian dari rekam jejak yang akan terus dinilai publik.
Interaksi yang lugas dan merakyat yang dibangunnya secara langsung dan media sosial menjadi ciri khas tersendiri.
Namun setakat ini, Agung telah mengatakan bahwa fokusnya memimpin Pekanbaru dan tidak ada terpikirkan untuk maju di Pilgubri.
Selanjutnya, nama Muhammad Rahul juga patut diperhitungkan. Ketua Gerindra Riau yang kini duduk sebagai anggota DPR RI tersebut memiliki kendaraan politik yang jelas serta jaringan partai hingga tingkat daerah.
Kekuatan Rahul terletak pada posisi politiknya. Gerindra memiliki struktur dan basis kader di berbagai wilayah Riau, sementara pengalaman sebagai anggota DPR RI memberinya akses pada jaringan politik di tingkat nasional.
Dari kubu PDIP, Zukri menjadi salah satu nama yang menarik. Bupati Pelalawan dua periode ini juga memimpin PDIP Riau. Dua periode memimpin Pelalawan memberikan Zukri pengalaman panjang dalam pemerintahan daerah. Di sisi lain, posisinya sebagai ketua partai membuka ruang konsolidasi politik yang lebih luas.
Nama terakhir adalah Paisal, yang membawa kekuatan dari wilayah pesisir. Walikota Dumai dua periode yang juga Ketua DPD Nasdem Dumai ini memiliki pengalaman memimpin kota yang memiliki posisi strategis dalam sektor industri, perdagangan dan jasa.
Kekuatan Paisal tidak hanya berada di Dumai. Jika mampu memperluas dukungan ke daerah pesisir lainnya, bukan tidak mungkin namanya semakin diperhitungkan dalam percaturan politik Riau.
Enam nama tersebut memiliki kekuatan yang berbeda. SF Hariyanto mengandalkan pengalaman birokrasi dan pemerintahan, Agung Nugroho memiliki panggung Pekanbaru dan Demokrat, Rahul membawa kekuatan Gerindra serta parlemen, Zukri memiliki pengalaman dua periode dan PDIP, Kasmarni mempunyai basis Bengkalis sekaligus menjadi figur perempuan, sedangkan Paisal memiliki kekuatan dari kawasan pesisir.
Namun, politik selalu dinamis. Nama yang ramai diperbincangkan hari ini belum tentu menjadi kandidat pada kontestasi mendatang.
Begitu pula sebaliknya, figur yang saat ini belum banyak disebut bisa saja muncul sebagai kejutan ketika peta koalisi mulai terbentuk.
Satu hal yang pasti, perebutan Riau 1 membutuhkan modal politik yang tidak sedikit. Popularitas saja tidak cukup. Dukungan partai, basis suara, rekam jejak, jaringan politik, kemampuan membangun koalisi hingga tingkat penerimaan masyarakat akan menjadi penentu.*(Cakapalah.com/Hendra)











