Jagariau – DURI – Krisis air bersih yang terjadi di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Bengkalis, khususnya diwilayah yang berdekatan dengan operasional PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tak kunjung usai, terutama bagi ribuan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minim (PDAM) Tirta Terubuk (TT) Cabang Duri.
Pasalnya, air baku yang dipasok dari PT (PHR) tak kunjung datang memberi kabar baik setelah dijanjikan normal pada bulan Juli 2025 ini sesuai hasil pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda), dr Ersan Saputra didampingi sejumlah Kepala OPD dan Camat beberapa waktu lalu.
“Baru dapat kabar dari PT PHR, jika pengerjaan Pipa HDPE yang direncakan selesai bulan ini, mundur sampai bulan agustus,”ujar Kepala Cabang (Kacab) PDAM TT Cabang Duri, Darwin Ginting, Senin (21/7/25).
Dikatakan Darwin, pihaknya memohon maaf atas ketidaknyamanan pelanggan dan sekali lagi mohon kesabarannya hingga pengerjaan Pipa HDPE PT PHR yang terbentang di Jalan Pipa Air Bersih usai.
Tentu saja kabar itu menjadi kabar buruk bagi ribuan pelanggan setia perusahaan dibawah naungan BUMD tersebut.
Dampak dari ngadatnya pasokan air baku yang hanya 15 liter/detik dari perusahaan pengelola minyak bumi itu, masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan air bersih. Tak jarang masyarakat harus menggunakan jasa air bersih seharga Rp 40 hingga Rp 50 ribu per 1000 liternya.
“Susah juga kalau seperti ini, PDAM jual air, tapi air bakunya berharap dari orang lain. Sementara meskipun air tidak sampai ke pelanggan, kita dipaksa harus membayar sampai ratusan ribu. Sampai kapan kondisi ini akan kami rasakan?,”keluh salah seorang pelanggan PDAM, Ridwan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari PT PHR terkait penyelesaian pengerjaan pemasangan pipa HDPE tersebut yang menyebabkan sebahagian besar masyarakat penghasil minyak bumi itu krisis air bersih.*











