Jagariau – DURI – Tahun ajaran baru, seragam baru sudah pasti dilakukan disetiap sekolah yang ujung ujungnya dibebankan kesetiap orang tua murid.
Tak tanggung tanggung dizaman serba mahal seperti saat ini, seragam sekolah dengan uang jutaan rupiah untuk mendapatkannya, tak jarang menjadi momok tersendiri bagi orang tua murid baru yang akan menimba ilmu disekolah baru.
Dalam prakteknya, Pemerintah pernah menerapkan aturan baru dengan membebaskan murid baru untuk menjahitkan bebas seragam sekolah dimanapun orang tua murid mau asalkan serupa.
Alih alih aturan itu ditaati, sejumlah sekolah malah menunjuk sejumlah tukang jahit untuk memenuhi seragam sekolah dengan sejumlah persyaratan dibelakang layar. Lagi lagi, fee rupiah menjadi perjanjian tersendiri dimasing masing sekolah dan tukang jahit.
Hal tersebut sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, namun daya masyarakat yang menyekolahkan anak seakan terkunci dan terkesan takut membongkar jaringan bisnis itu.
Bayangkan saja, untuk seragam sekolah, masing masing sekolah telah menetapkan beberapa pasang dan dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 1,6 juta.
Modusnya, sekolah tidak menerima rupiah untuk pembuatan seragam itu, melainkan langsung mengarahkan ke penjahit dengan harapan masyarakat dan calon wali murid menilai sekolah jauh dari praktek yang menguntungkan salah satu pihak.
Khusus di Kota Duri dan sekitarnya, sejumlah usaha jahitan tampak bermitra dan menjadi pilihan utama sejumlah sekolah besar. Diantaranya beralamat di Jalan Desa Harapan, Jalan Jendral Sudirman dan beberapa titik lainnya.
Fakta mengejutkan ternyata terlihat jelas saat salah seorang Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri di Kecamatan Bathin Solapan tengah mengunjungi salah satu penjahit dibilangan Jalan Desa Harapan pada Rabu (2/7/25).
Meski belum diketahui isi percakapan sang nahkoda Sekolah dengan pemilik usaha jahitan ternama itu, namun prasangka sejumlah pasang mata sudah barang tentu tema pertemuan itu tidak jauh dari permasalahan jahitan seragam sekolah ditahun ajaran baru.
Saat dikonfirmasi terkait pertemuan itu, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Mandau, Agusman saat dikonfirmasi, Kamis (3/7/25) melalui aplikasi pesan WhatsApp telepon genggamnya, tak kunjung berbalas. Isi pesan hanya dibaca dengan tanda centang dua berwarna biru.
Guna memastikan apakah aksi penunjukan pengadaan seragam sekolah melalui usaha jahit tertentu itu dibenarkan ataupun tidak, jagariau.com mencoba mengkonfirmasi Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik Riau, Erisman Yahya melalui pesan WhatsApp nya juga belum berbalas.
Namun dalam hal ini, siapakah yang diuntungkan dalam pengadaan seragam murid baru dalam penunjukkan yang dilakukan pihak sekolah tersebut? Jawabannya hanya ada pada pembaca dan masyarakat.*











