Jagariau – Respons cepat dalam menangani pasien yang terkena kasus serangan strok atau penyumbatan pembuluh darah sangatlah penting.
Dalam dunia medis, istilah masa emas atau golden period hanya memiliki waktu yang sangat terbatas yakni 4,5 jam sejak gejala pertama muncul yang wajib dimaksimalkan untuk menyelamatkan nyawa.
Gejala strok umumnya ditandai dengan kelumpuhan pada tangan atau kaki, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, hingga kesulitan menelan. Kondisi ini menjadi indikasi awal yang perlu segera ditangani secara medis.
Dokter spesialis saraf RS Premier Bintaro, Meidianie Camellia, menjelaskan, penanganan pada 24 jam pertama sangat menentukan hasil pemulihan pasien di masa depan.
Pada pasien yang mengalami strok penyumbatan (sekitar 80 persen dari total kasus strok), masa emas ini adalah kesempatan krusial untuk membuka kembali aliran darah yang tersumbat.
“Apabila masa emas itu tertunda atau terlambat, maka sel saraf tersumbat tidak mendapatkan nutrisi, oksigen, dan aliran darah terganggu, sehingga sel tersebut bisa mati. Begitu ada gejala seperti tangan dan kaki sulit digerakkan atau bicara mulai tidak lancar, jangan menunggu atau menunda lagi. Langsung ke rumah sakit karena golden period kita sangat singkat, hanya 4,5 jam untuk mendapatkan penanganan terbaik,”ucap dr Meidianie di Jakarta, Sabtu (11/4/26).
Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (Perdosri) itu menjelaskan apabila ditangani dengan benar dalam waktu 4,5 jam, kondisi pasien memiliki peluang besar untuk kembali mendekati normal karena sel saraf yang sekarat masih bisa diselamatkan.
Strategi Pemulihan Ideal
Ia mengungkapkan, untuk proses pemulihan pasien strok yang ideal melibatkan dua pilar utama yakni stimulasi, yaitu memberikan rangsangan pada sel saraf untuk memicu pertumbuhan dan pembentukan koneksi baru. Kedua, menjaga lingkungan sel dengan mengontrol faktor risiko agar sel saraf dapat berkembang dengan baik.
“Hal ini mencakup pengendalian kadar gula darah (diabetes), tekanan darah (hipertensi), dan kadar kolesterol. Pemulihan strok tidak bisa dilakukan oleh satu dokter saja karena fungsi otak yang sangat kompleks. Maka perlu adanya kolaborasi multidisiplin,”ungkap kepala Stroke Center RS Premier Bintaro itu.
Kerja sama tim medis tersebut meliputi dokter saraf, dokter rehab medik guna melatih pasien secara teknis untuk kembali berfungsi, seperti berjalan dan berkomunikasi.
Selanjutnya, tim pendukung lainnya termasuk dokter akupunktur untuk membantu stimulasi saraf, serta dokter bedah saraf yang berperan penting terutama pada fase awal penanganan.
Pemulihan pascastrok bukanlah proses yang instan, melainkan sebuah perjuangan bertahap yang membutuhkan kesabaran luar biasa dan optimisme yang berkelanjutan. Dokter yang akrab disapa Meidi, menjelaskan kondisi pasien pascastrok sangat bervariasi.
Ada pasien yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk bisa kembali berjalan, tetapi ada pula yang menunjukkan kemajuan pesat dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit. Semua ini sangat bergantung pada tingkat keparahan strok dan penyakit penyerta yang dimiliki pasien.
“Menjadi kuat pascastrok bukan berarti langsung kembali normal atau menjadi sekuat pahlawan super, melainkan proses menyadari kemampuan diri. Dari yang awalnya merasa tidak mampu, perlahan-lahan pasien mulai melihat bahwa mereka sebenarnya bisa melampaui batasan tersebut,”jelas dia.
Bagi para penyintas, mencegah strok berulang adalah tugas seumur hidup. Untuk itu penting mengelola faktor risiko seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes dan kolesterol tinggi, penyakit jantung dan obesitas serta gaya hidup yang kurang gerak atau olahraga.*











