Jagariau – DURI – Layanan demi layanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mandau kembali mendapat sorotan tajam. Kali ini datang dari salah seorang masyarakat yang menjadi korban gigitan kucing beberapa waktu lalu.
Namun miris, saat dibawa ke RSUD Mandau, pasien itu malah diarahkan menjalani pengobatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) diluar rumah sakit kebanggaan masyarakat Kota penghasil minyak bumi itu.
Kejadian tersebut cukup membuat jantung yang mendengarnya berdegub kencang hingga tersebar dari mulut ke mulut. Sebahagian masyarakat menyesalkan jika rumah sakit dengan status rujukan itu tidak memiliki ketersediaan obat anti rabies.
“Waduh, masak sekelas rumah sakit besar tidak memiliki atau kehabisan obat rabies, bagaimana layanan dasarnya ini,”ucap salah seorang pengamat kesehatan yang enggan disebutkan identitasnya saat berbincang, Jum’at (16/1/26).
Direktur RSUD Mandau melalui Kepala bidang (Kabid) Pelayanan, drg Armen Sihotang saat dikonfirmasi melalui aplikasi pesan singkat WhatsAppnya, Jum’at (16/1/26) justru sempat melontarkan jawaban yang terkesan emosional.
“Siapa pasiennya, saya tau kau wartawan. Tapi jangan kau pakai bahasa miris. Siapa bilang kita tidak ada obat anti rabies,”ucapnya dengan nada tinggi.
Namun saat ditanya kenapa pasien diarahkan ke Puskesmas jika ketersediaan obat anti rabies tersedia, Armen mengatakan jika yang melayani tidak tau dengan ketersediaan obat tersebut.
“Mungkin bahagian layanan tidak tau. Masing masing layanan kesehatan punya program masing masing, tapi bukan berarti kami tak punya obat,”jawabnya.
Tentu saja, hal tersebut sangat menyayat hati dengan miris jika pelayanan dasar, khusus ketersediaan obat anti rabies jauh dari harapan pasien dan jiwa emosional pejabatnya disebut anti kritik hingga membuat pelaku kontrol sosial was was mengkonfirmasinya.
“Jika persediaan obat kosong dan anggarannya menunggu APBD, harusnya menjadi bahan evaluasi. Untuk apa ada BLUD yang menjadi Back up anggaran rumah sakit,”kesal sumber itu.*











