Jagariau – DURI – Ibarat nafsu kuat, namun tenaga kurang. Itulah pribahasa yang patut ditujukan kepada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPT) Persampahan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kecamatan Mandau dan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. Meski ditekan harus menciptakan kebersihan Kota penghasil minyak bumi, namun tidak diimbangi dengan armada yang ideal.
Hal tersebut terkuak saat jagariau.com menelusuri Kantor UPT pasukan kuning yang beralamat dibilangan Jalan Stadion, Kecamatan Mandau. Armada pengangkut limbah rumah tangga itu banyak terlihat lumpuh dan bahkan terkesan dipaksakan beroperasi.
Faktanya sangat mencengangkan, untuk kendaraan operasional jenis truk diketahui hanya berjumlah sembilan unit dan satu unit pick up jenis kecil untuk melayani ratusan ratusan ribu sampah yang dihasilkan masyarakat dua Kecamatan terpadat di Kabupaten berjuluk Sri Junjungan Bengkalis. Sementara produksi sampah berjumlah lebih kurang 15 Ton perharinya.
Tentunya sangat miris dirasa dengan prioritas pimpinan negeri yang memprioritaskan dan menegaskan jika sampah menjadi permasalahan utama yang mesti diselesaikan.
Alih alih bersih, Kota Duri dalam beberapa pekan menjadi pembahasan masyarakat disejumlah titik kumpul. Mereka mengatakan jika Pemerintah belum layak menegaskan jika sampah menjadi prioritas dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tahun 2025 lalu.
Tidak hanya itu, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pun dirasa sangat jauh dari kelayakan standar yang terletak di Jalan Rangau, Kelurahan Pematang Pudu. Untuk lahan pembuangan hanya seluas 2,5 Hektare saja.
Hal tersebut dibenarkan Kepala UPT Persampahan dan RTH DLH Kecamatan Mandau, Harzulkifli. Menurutnya, produksi sampah dalam sehari semalam bisa mencapai 15 Ton dengan armada tersebut.
“Kami punya sembilan armada truk dan satu unitnya jenis pick up. Sementara produksi sampah di Kota ini mencapai 15 ton sehari semalamnya. Kalau idealnya harus 15 unit mobil,”ujarnya.
Bayangkan saja, jika salah satu dari sembilan unit armada itu rusak atau terdapat kendala lainnya, maka belasan ton sampah itu akan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat, dan hal tersebut terus dan terhindarkan dalam momen hari besar tertentu.
Entah sampai kapan kondisi tersebut akan berakhir dan Kota dengan icon penghasil minyak bumi terbesar kedua seantero Nusantara?, mari tanyakan kepada rumput yang bergoyang.*











