Jagariau – PEKANBARU – Usai pertarungan di Pemilihan Legislatif 2024 ternyata tak membuat pesertanya kapok. Sejumlah Caleg gagal itu tampak mulai kembali menyatakan diri siap mengadu peruntungan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Sejumlah nama dari anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota yang gagal untuk periode 2024 – 2029 bersiap maju Pilkada.
Figur yang mengincar kursi Gubernur Riau, ada nama Politisi Demokrat, M Nasir, Politisi Golkar, Idris Laena dan HM Harris.
Lalu ada nama politisi PAN, Ade Hartati, Politisi Golkar, Ida Yulita Susanti, Politisi PAN, Irvan Herman yang bakal maju pada Pilwako Pekanbaru mendatang. Kemudian Markarius Anwar, Politisi PKS yang bersiap maju di Siak, Syamsurizal Politisi PAN bersiap maju di Rohul.
Selain itu ada juga caleg gagal disejumlah daerah lain dan siap maju dalam Pilkada. Seberapa besar peluangnya?
Menurut Pengamat Politik asal Universitas Riau, Dr Tito Handoko, para Caleg gagal yang hendak maju di Pilkada merupakan Caleg yang kurang sadar diri.
“Kalau menurut saya, caleg yang gagal di Pileg mencoba peruntungan di Pilkada itu kuang sadar diri. Kurang mengukur bayang bayang. Makanya seharusnya, seorang politisi harus mampu mengukur bayang-bayang walaupun itu hanya cek ombak,”ucapnya.
Tito mengatakan,hampir semua partai politik itu ukurannya hampir sama, antara lain kualitas individu, baik terkait kemampuan elektabilitas, popularitas dan finansial.
“Jangan sampai maju sia sia. Karena kan ini tidak lagi ukuran batu loncatan Pemilu, kalau dulu (2019) iya maju Pilkada kalah bisa jadi batu loncatan ke Pileg. Kalau sekarang Pemilu telah usai, jadi partai politik akan mencari kader terbaik dan potensial. Sementara kadang kadang para kader menganggap dirinya potensial semua, sementara kemanpuanya gak ada, kalau dia potensial dan bagus tentu menang waktu Pilegnya,”ungkap Tito.
Ditambahkan Tito, memang sah sah saja para politisi yang kalah di Pileg maju di Pilkada, namun tentu memang harus ada tolak ukur.
“Saya pikir partai politik cukup rasional untuk mengusung Cakada (calon kepala daerah). Tak sembarang juga partai memberikan perahu secara cuma cuma maupun berbayar itu, karena partai kan ingin mengusung dan ingin menang,”jelasnya mengakhiri.(Hen/Cakaplah.com)











