Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda Riau PEKANBARU Benarkah Terlalu Banyak Main Gadget Picu Anak Idap Autisme?

Benarkah Terlalu Banyak Main Gadget Picu Anak Idap Autisme?

Jagariau – Anggapan kebiasaan bermain gadget atau gawai bisa menjadi penyebab anak mengalami autism dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan anggapan yang keliru.

Ditegaskan dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak RSCM Kencana, dr R R Amanda Soebadi, bermain gawai bukan penyebab anak mengalami ADHD atau autisme.

“Jadi gadget itu bukan penyebab ADHD ya,”ujar dr Amanda, dikutip dari Antara, Jum’at (1/5/26).

Meski bukan menjadi penyebab, namun tak dipungkiri paparan gawai yang berlebihan dapat memperburuk gejala yang sudah ada atau memunculkan perilaku yang menyerupai gangguan tersebut.

Dokter Amanda menuturkan, ADHD terjadi akibat ketidakseimbangan neurotransmiter, yakni zat kimia di otak yang berperan penting dalam mendukung fungsi normal otak. ADHD merupakan gangguan neurologis yang umumnya membuat penderitanya sulit fokus atau berkonsentrasi, mudah terdistraksi, serta cenderung impulsif dalam berperilaku. Hingga kini, dalam dunia medis penyebab pasti ADHD belum diketahui secara jelas, meski faktor genetik diyakini berperan besar.

Terkait penggunaan gawai, dr Amanda menyebut anak dengan ADHD cenderung lebih tertarik pada aktivitas yang ditawarkan perangkat digital, seperti bermain gim atau menonton video singkat. Aktivitas seperti itu memberikan rangsangan cepat yang memicu rasa senang, tetapi hanya membutuhkan usaha yang ringan dan berulang.

“Ketika bermain gim dengan ponsel, otaknya itu mendapatkan stimulus dari perangkat gawai tersebut dan akan terstimulasi dengan cepat. Berubah dengan cepat, tetapi hanya membutuhkan usaha yang ringan dan yang repetitif dari si anak. Jadi secara natural karena imbalance neurotransmitter itu,”ungkapnya.

Kondisi tersebut dapat memicu otak menjadi terbiasa mencari cara instan untuk melepaskan dopamin, hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Akibatnya, anak menjadi kurang tertarik melakukan aktivitas lain yang memerlukan usaha lebih besar, seperti belajar, membaca, atau berinteraksi sosial.

Sementara itu, autisme merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari faktor genetik hingga paparan lingkungan. Meski demikian, penggunaan gawai bukanlah penyebab langsung autisme.

“Paparan gadget itu adalah modifier (pengubah) dari gejala yang tampak. Anak yang tidak autis kalau mendapatkan paparan gadget berlebihan dan kekurangan kesempatan berinteraksi sosial, mendapat stimulasi dan lain lain itu ya dia bisa menampakkan gejala seperti anak autis,”jelas dokter yang juga bertindak sebagai ketua unit kerja koordinasi (UKK) Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut.

Pada anak yang tidak mengalami autism, tetapi terpapar gawai secara berlebihan, perubahan perilaku yang muncul umumnya dapat diperbaiki lebih cepat apabila anak kembali mendapatkan stimulasi yang tepat, terutama melalui interaksi sosial dan aktivitas fisik.

Sebaliknya, pada anak dengan autisme, ketergantungan terhadap gawai dapat memperburuk kondisinya karena mengurangi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan orang lain.

“Kalau seorang anak yang memang autis kemudian paparannya hanya dengan gadget saja, nanti paparan interaksi antar manusianya makin sedikit. Tentunya dia akan makin mengisolasi dirinya sendiri,”tegas dr Amanda.*

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments