Jagariau – DURI – Polemik media massa dan pejabat publik di Kabupaten Bengkalis semakin memanas setelah akun media sosial (medsos) Tiktok diduga pro pejabat wakil rakyat mencul seiring berjalannya waktu, Rabu (1/4/26).
Kontroversi itu berawal dari pernyataan Ketua Komisi I DPRD Bengkalis, Tantowi, yang sebelumnya menyebut istilah ‘media sampah’ melalui aplikasi SW telepon genggamnya tersiar usai viralnya berita kecelakaan yang dialami adik kandungnya yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua (Waka) II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Selasa (31/3/26) dilintas Dumai – Pakning, tepat di Desa Parit I Api api, Kecamatan Bandar Laksamana, Bengkalis. Wakil rakyat itu tak terima dengan narasi yang dibuat sejumlah media dan langsung melontarkan bahasa yang dianggap melecehkan.
Belakangan, akun Tiktok dengan nama Besak Borak muncul muncul dan menyudutkan pemberitaan salah satu media online lokal di Kota minyak, kabarDuri.net hingga dianggap semakin memperkeruh suasana.
Menanggapi hal tersebut, Redaksi KabarDuri.net dengan tegas membantah tudingan tersebut. Mereka menegaskan bahwa pemberitaan yang dilakukan tetap mengacu pada prinsip jurnalistik dan tidak menyudutkan pihak mana pun.
“Kami tidak pernah memberitakan secara negatif dan masih menunggu data kronologis resmi dari Satlantas Polres Bengkalis,”demikian pernyataan pihak redaksi.
Lebih lanjut, KabarDuri.net menyampaikan bahwa kritik yang mereka lontarkan murni ditujukan pada etika komunikasi pejabat publik, bukan pada individu secara personal.
Menurut mereka, penggunaan istilah seperti ‘media sampah’ tidak mencerminkan sikap bijak dari seorang anggota legislatif, terlebih media merupakan salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi.
Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai etika pejabat publik dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Peristiwa inipun semakin membuka mata masyarakat agar lebih cermat dan teliti dikemudian hari dalam memilih wakilnya diparlemen dalam waktu yang tidak sebentar, dalam istilah jangan salah beli kucing dalam karung.
“Bagaimana mau mengurusi konstituennya, kalau hanya menerima sajian berita miring saja tidak bisa dan terkesan emosian. Masih terlalu hijau istilah kami kepada wakil rakyat ini untuk duduk dikursi Ketua Komisi. Tdak bisa membedakan mana yang harus dihadapi secara dewasa dan mana yang tidak dalam bersikap,”ujar Setiawan yang juga Founder Jagariau.com.
Sejumlah pihak juga menilai, kritik terhadap media sah sah saja disampaikan, namun harus dilakukan secara elegan dan konstruktif tanpa menggunakan diksi yang berpotensi menyinggung serta memicu polemik yang lebih luas.*











