Sabtu, Juni 27, 2026
Beranda Riau PEKANBARU Bule Berbikini dan CD di Objek Wisata Dana Rusa Hebohkan Masyarakat Kampar

Bule Berbikini dan CD di Objek Wisata Dana Rusa Hebohkan Masyarakat Kampar

Jagariau – KAMPAR – Akibat ulah bule (Turis Mancanegara), masyarakat Kabupaten Kampar mendadak heboh sejak Ahad (8/2/26) dikarenakan Bikini dan celana dalam (CD) yang dipakai sebagai penutup aurat tanpa dialas pakaian lain saat mandi pada kawasan Objek Wisata Danau Rusa, Kelurahan Batu Bersurat, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.

Aksi itu tersebar melalui video dan foto yang diunggah akun media sosial (Medsos) Vi Kar di Grup Info Kampar.

Dalam unggahan video dan foto itu juga bertuliskan caption “Pariwisata kampar berhasil menarik perhatian wisata asing. Apakah masih berlaku Kampar Serambih MEKAH pak Bupati,”tulisnya.

Tak lama unggahan itu beredar, ratusan komentar miring masyarakat pun membanjiri kolom. Berbagai reaksi kekecewaan dan kecaman ditulis masyarakat maupun tokoh masyarakat.

Namun sayang, upaya konfirmasi kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar selaku pengelola objek wisata Danau Rusa tersebut belum membuahkan hasil.

Kadisparbud Kampar, Afdal maupun kepala bidang saat dikirimi pesan singkat aplikasi WhatsAppnya belum menunjukkan reaksi.

Salah seorang tokoh masyarakat sekaligus tokoh adat yang ikut mengomentari, H Sawir Datuk Tandiko. Pucuk Adat Kenegerian Pulau Gadang, XIII Koto Kampar ini juga memposting ulang vidio yang sudah diblur.

Sawir Datuk Tandiko menyesalkan aksi miris di Danau Rusa PLTA Koto Panjang ada pengunjung wisatawan melihat penampilannya wisatawan itu seperti di Pantai Kuta, Bali.

“Selaku Tokoh Adat di XIII Koto Kampar kami sangat menyayangkan dan sungguh prihatin dengan hal yang demikian tulis Datuk Sawir,”ungkapnya.

Dikatakannya, jangan dengan dalih mengejar target PAD dari sektor wisata dan pengembangan wisata di XIII Koto Kampar, kita menghalalkan segala macam cara dengan mengorbankan dan melanggar norma-norma agama dan adat istiadat Kabupaten Kampar, khususnya XIII Koto Kampar karena negeri ini adalah negeri yang agamis dan negeri beradat.

“Kita mendukung pengembangan wisata di XIII Koto Kampar dan PLTA Koto Panjang, tapi wisata yang teliti dan tidak bertentangan dengan agama dan adat istiadat yang berlaku,”tegas pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) Kampar ini.

Kecaman senada juga disampaikan sejumlah tokoh agama di Kabupaten Kampar. Ustad Masnur yang juga Ketua Gerakan Pemuda Serambi Mekkah (GPSM) mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi di objek wisata yang notabene dikelola Pemerintah Kabupaten Kampar.

“Ini sangat memprihatinkan sekali. Tidak ada dalam sejarah peradaban Kabupaten Kampar hal ini terjadi,”cetusnya.

Ia berharap kepada Pemkab Kampar yang mengurusi wisata hendaknya memperhatikan nilai nilai yang berkembang di Kabupaten Kampar yang merupakan negeri religius.

Menurutnya, banyak destinasi wisata yang bisa digalakkan namun jangan sampai menghancurkan tatanan norma norma kehidupan masyarakat Kabupaten Kampar.

“Kalau menurut pemikiran saya pribadi, ini tidak akan banyak mendatangkan uang, tapi akan hanya mendatangkan banyak pertanyaan,”imbuhnya.

Ia berharap kecolongan ini menjadi pelajaran dan Pemkab Kampar kedepan membenahi aturan yang diberlakukan karena kejadian ini sangat mencoreng Kabupaten Kampar sebagai Serambi Mekkahnya Provinsi Riau.

“Saya sangat sayangkan pengelola yang membuatkan wisatawan seperti itu. Menurut mereka bagus datangkan tapi dengan pola seperti itu tidak akan meningkatkan PAD,”ujarnya mengakhiri.*

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments