Sabtu, April 18, 2026
Beranda Riau PEKANBARU Polemik Partai Gerindra di Riau, Eksodus Kader Hingga Kudeta Pimpinan

Polemik Partai Gerindra di Riau, Eksodus Kader Hingga Kudeta Pimpinan

Jagariau – PEKANBARU – Jelang Pesta Demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, ujian kian bertubi tubi menerpa Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di Bumi Melayu. Mulai dari aksi loncat pagar sejumlah kader yang kini duduk dikursi legislatif hingga perebutan kekuasaan ditingkat Pimpinan daerah.

Seperti salah satu kadernya, Aulia, yang dikabarkan berpindah partai untuk maju di Pemilu 2024. lain halnya aksi Taufik Arrahman yang loncat pagar bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Di Kota Pekanbaru, ada Fatullah yang duduk di DPRD Pekanbaru. Fatullah yang duduk di legislatif melalui Partai Gerindra, kini dikabarkan pindah ke Partai Demokrat.

Selain banyaknya kader yang pindah, perebutan kekuasaan di Gerindra Rokan Hulu (Rohul) masih terus bergulir. Setelah dikudeta Budiman Lubis beberapa waktu lalu dari tangan Sukiman, saat ini kursi Ketua Gerindra Rohul kembali ke Sukiman.

Melihat kondisi tersebut, Pengamat Politik Universitas Islam Riau, Panca Setyo Prihatin mengatakan, dinamika di Partai Politik (Parpol) secara umum dibaca sebagai belantara liar perebutan kekuasaan dengan mempertaruhkan segala macam bentuk kekuatan yang dimiliki.

“Hal ini banyak terjadi, tidak hanya di Partai Gerindra, tapi di hampir banyak parpol saat ini. Proses awalnya sudah mengangkangi prinsip demokrasi seperti pelanggaran AD/ART, pembegalan Ketua Partai, menjadi salah satu contoh konkret dan berdampak pada rasionalisasi kepentingan internal partai, menggeser posisi di partai atau bahkan di PAW kan menjadi agenda yang tak terhindarkan,”ujarnya.

Dikatakan Panca, ketidaksepahaman orientasi kepentingan politik juga menjadi penyebab terjadinya pendongkelan posisi, apakah Ketua ataupun jabatan strategis lainnya di partai ataupun di legislatif.

“Dari perspektif ini kita bisa menggunakannya sebagai platform analisis terkait dengan pendongkelan Sukiman (beberapa waktu lalu) sebagai Ketua DPD Gerindra Rohul karena menurut saya apa yang dilakukan akibat Sukiman dianggap tidak sejalan dengan kepentingan partai di tingkat Provinsi atau ada indikasi akan melakukan perlawanan dalam perebutan jabatan di partai, di legislatif ataupun kepala daerah,”katanya.

Menurut Panca, kondisi itu dampaknya cukup luas hingga ada ketidaknyamanan kader kader Gerindra.

“Dampaknya tentu luas, sehingga dalam analisa saya, maka banyaknya kader Gerindra yang mundur juga disebabkan rasa tidak nyaman untuk kepentingan politik mereka hari ini dalam menyongsong kontestasi politik 2024,”ucapnya.(Hen/Ckp)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments